MELIHAT WAJAH ASLI BANYUWANGI DATANGLAH KE DESA WISATA OSING KEMIREN
Keunikan
Desa Kemiren terletak pada banyaknya budaya dan tradisi upacara adat yang masih
terasa kental, terutama budaya osing, budaya asli Banyuwangi. Warganya tetap
kental menggunakan dialek bahasa osing dalam kehidupan sehari-hari. Mereka juga
kuat menjaga tradisi budaya warisan leluhur. Mereka yang mayoritas petani,
masih menggunakan cara alami dalam mengolah sawah. Membajak menggunakan kerbau
dan memanen padi dengan cara tradisional. Pada pagi hari kita bisa melihat para
wanita petani berbondong-bondong berangkat ke sawah dengan memanggul bakul
berisi peralatan memanen padi. Selama perjalanan mereka asyik berbicara
menggunakan dialek osing. Desa Kemiren terletak di barat kota Banyuwangi
Dari
pelabuhan penyeberangan Ketapang hanya perlu waktu sekitar 30 menit untuk
mencapai tempat ini dengan berkendaraan sepeda motor. Sarana transportasi siap
tersedia, sarana jalan raya memadai. Menurut sejarahnya, desa ini lahir pada
zaman penjajahan Belanda, tahun 1830-an. Awalnya, desa ini hanyalah hamparan
sawah hijau dan hutan milik para penduduk Desa Cungking yang konon menjadi
cikal-bakal masyarakat osing di Banyuwangi. Hingga kini Desa Cungking juga
masih tetap ada. Letaknya sekitar 20 km arah timur Desa Kemiren. Hanya saja,
saat ini kondisi Desa Cungking sudah menjadi desa kota. Saat itu, masyarakat
Cungking memilih bersembunyi di sawah untuk menghindari tentara Belanda.
Para
warga enggan kembali ke desa asalnya di Cungking. Maka dibabatlah hutan untuk
dijadikan perkampungan. Hutan ini banyak ditumbuhi pohon kemiri dan durian.
‘’Karena itu leluhur kami menamakannya Kemiren, dari perpaduan kata ‘kemiri’
dan ‘duren’,‘’ tutur D. Timbul, tokoh masyarakat Desa Kemiren. Pertama kali
desa ini dipimpin kepala desa bernama Walik. Sayangnya, tidak ada sumber jelas
yang menceritakan siapa Walik. Konon dia termasuk salah satu keturunan
bangsawan.
Saat
ini luas desa ini 105.771 m2 dengan penduduk 2.622 jiwa. Sejak dulu hingga
sekarang mayoritas penduduknya tetap bertahan sebagai petani. Alasan utamanya,
sumber air melimpah di desa tersebut. Padepokan Gandrung Desa ini memiliki
banyak kesenian unik khas Banyuwangi. Inilah salah satu yang melatarbelakangi
desa ini disebut sebagai ‘desa wisata osing’. Berbagai kesenian yang bisa
dijumpai di antaranya seni barong, gandrung, kuntulan, angklung, jaran kincak
(kuda menari) dan mocopatan (membaca lontar kuno). Banyaknya kesenian inilah
yang menjadikan Desa Kemiren incaran para akademisi untuk melakukan penelitian,
di bidang keagamaan maupun kesenian. Menurut catatan, banyak warga dari dalam
dan luar negeri menyandang gelar doktor dan profesor setelah melakukan
penelitian di desa ini. Kesenian tradisional yang paling popular, seni gandrung.
Hampir
semua penari gandrung terkenal berasal dari Kemiren. “Di sini wanita mulai dari
anak TK hingga dewasa semua belajar dan bisa menari gandrung,” ujar D. Timbul.
Di desa ini ada padepokan yang khusus mengajarkan gandrung dan tarian osing
lainnya. Hampir tiap liburan tempat ini selalu dipenuhi warga masyarakat yang
ingin mendalami gandrung. Desa Kemiren juga memiliki banyak kegiatan upacara
tradisional yang unik. Di antaranya, ider bumi yang digelar tiap hari raya Idul
Fitri. Warga berkeliling kampung sambil membawa 37 tumpeng berisi makanan khas
osing yakni pecel ayam. Bahannya terbuat dari ayam kampung yang dipanggang dan
dicampur urap kelapa muda. Upacara lainnya, selamatan di tiap titik mata air.
Tujuannya, meminta kesuburan tanaman dan bebas dari segala gangguan penyakit.
Hampir tiap upacara selalu disajikan makanan khas pecel ayam. Masyarakat
Kemiren juga sangat mengagungkan leluhur.
Tiap
warga yang akan membuat hajatan selalu melakukan doa dengan membawa pecel ayam
di makam Mbah Buyut Cili yang dipercaya sebagai salah seorang leluhurnya.
Keunikan lain yang dijumpai di desa ini adalah rumah adat asli yang disebut
gebyok. Hampir semua rumah di sini terutama yang jauh dari jalan raya masih
terlihat asli seperti zaman dulu. Rumah ini terbuat dari kayu hutan yang masih
asli, memiliki atap khas yang menjulang tinggi. Konon, bentuk rumah gebyok
memiliki filosofi yang sangat tinggi. Rumah adat osing terdiri atas tiga jenis,
yakni, tikel balung, baresan, dan crocogan. “Ini mengisahkan kehidupan sebuah
keluarga. Artinya untuk menjadi keluarga yang tenteram perlu perjuangan dan
perjalanan yang panjang,” ujar D. Timbul. Tahun 1990 tepatnya saat kepemimpinan
Gubernur Jawa Timur Basofi Sudirman, Desa Kemiren ditetapkan menjadi kawasan
wisata desa adat osing. Penetapan ini ditandai berdirinya pembangunan anjungan
desa wisata osing yang ditempatkan di tengah-tengah Desa Kemiren. Luas bangunan
anjungan 800 m2. Di dalamnya berisi gedung budaya dan berbagai anjungan rumah
adat osing.
Sayangnya,
proyek yang menelan biaya cukup besar tersebut harus mangkrak. Bangunannya
banyak yang rusak dan jarang digunakan untuk kegiatan pentas seni. Akhirnya,
tahun 1994 pengelolaannya diserahkan kepada swasta, dan tahun 2003 tempat ini
murni dikomersialkan. Saat ini di anjungan desa wisata osing hanya terdapat kolam
air alami dan beberapa rumah adat yang disewakan sebagai vila. Sewa vila
satu malam Rp 80.000. Pengunjung rata-rata tiap hari tidak kurang dari 100
orang. Sementara yang menginap relatif kecil. Umumnya tempat ini ramai
kunjungan saat-saat hari libur sekolah. - udi

Comments